Jumat, 15 Juni 2012

KTI(kaya tulis ilmiah)


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualitas guru, penyempurnaan prasarana pendidikan lainnya, dan peningkatan mutu manajemen pendidikan sekolah. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang merata.

Demikian juga didalam pembelajaran bahasa Indonesia yang merupakan salah satu pengetahuan yang mempunyai peranan penting dalam melatih berpikir siswa. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat untuk mengembangkan ketajaman berpikir siswa yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya secara logis dan sistematis, kualitas pengajaran bahasa Indonesia belumlah sesuai dengan harapan. Menurut Kadarusman (dalam Setiawan, 1996: 18) dalam masyarakat berkembang isu kemampuan dan keterampilan bahasa Indonesia lulusan sekolah di Indonesia pada umumnya mengalami penurunan, terutama lulusan sekolah.

Menurut Hudoyo (1979), selain sebagai metode berpikir logis, bahasa Indonesia merupakan dasar dan pangkal tolak penemuan dan pengembangan ilmu-ilmu lain. Oleh karena itu dalam bidang pembelajaran penguasaan bidang bahasa Indonesia bagi siswa akan menjadi sarana yang ampuh dalam mempelajari ilmu-ilmu yang lain, baik pada jenjang pendidikan yang sama atau pada jenjang yang lebih tinggi. Dengan membiasakan diri  berpikir logis dan sistematis, siswa dapat mecermati praktek kehidupannya sehari-hari. Hal ini sebagaimana terjabar dalam tujuan pembelajaran bahasa Indonesia yang meliputi usaha pembentukan kecerdasan, membantu perkembangan belajar dan pembentukan watak kepribadian siswa. Oleh karena itu usaha pembelajaran bahasa Indonesia di harapkan dapat mempersiapkan siswa untuk sanggup menghadapi perubahan keadaan didalam kehidupannya dan didunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, cermat, jujur, kritis, efektif dan efisien. Pada hakekatnya, pembelajaran bahasa Indonesia diberikan kepada siswa untuk mempertajam penalarannya, serta mengembangkan pemikiran yang logis dan sistematis bahkan dalam belajar bahasa Indonesia, siswa dapat mengembangkan pemikirannya dari kebiasaan berpikir secara konkrit menuju pemikiran yang abstrak dengan menggunakan pembuktian-pembuktian deduktif (The Liang Gie, 1984) dalam Hudoyo, 1990.

Menurut Piaget (dalam Nasution, 2000) mengemukakan bahwa, proses berpikir manusia berkembang secara bertahap, dari berpikir konkrit ke abstrak melalui 4 periode. Keempat periode tersebut adalah (a) periode sensori motor (0-2 tahun), (b) periode pra operasional (2-7 tahun), (c) periode operasi konkrit (7-12 tahun), dan (d) periode operasi formal (11-12 tahun ke atas). Dari tahap perkembangan tersebut nampak bahwa pembelajaran bahasa Indonesia yang diberikan kepada siswa di Sekolah Menengah Pertama telah berada pada tingkat pemikiran operasi formal. Pada tahap ini disebut operasi hipotik-deduktif, artinya anak telah dapat memberikan alasan dengan menggunakan lebih banyak simbol atau gagasan dalam cara berpikirnya.

Sementara ini dalam pembelajaran bahasa Indonesia banyak dilakukan secara konvensional karena dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas, guru mendominasi proses belajar mengajar dengan strategi klasikal, dan metode ceramah sebagai metode utama, siswa menerima materi pelajaran secara pasif, dan bahkan hanya menghafal rumus-rumus (Marpamy dalam Herawati, 2003). Selain itu menurut  R. Soedjadi (dalam Herawati, 2003: 3) bahwa urutan sajian materi dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang biasa dilakukan selama ini adalah (1) diajarkan teori/definisi/teorema, (2) diberikan contoh-contoh, (3) diberikan soal latihan. Ini menandakan bahwa pembelajaran yang dilakukan menggunakan pendekatan strukturalistik sehingga siswa cenderung menerima dan menyalin teorema/definisi dan contoh-contoh yang diberikan guru.

Untuk mengurangi ini maka dibuatlah terobosan yang dilakukan dalam upaya peningkatan sumber daya tenaga kependidikan, yaitu melalui pelatihan terintegrasi bagi guru, kepala sekolah dan staf dinas yang didasarkan kepada kompetensi yang harus mereka miliki. Menjawab pelatihan terintegrasi tersebut khususnya untuk guru telah dilaksanakan tes kompetensi yang dilakukan oleh Direktorat SMP yang bertujuan untuk mengetahui kebutuhan guru kaitannya dengan kompetensi yang harus dimiliki. Sedangkan pengembangan materi juga telah dilaksanakan rintisan pengembangan materi pembelajaran dan pengajaran kooperatif.

Pengembangan materi tersebut difokuskan dalam rangka perbaikan pembelajaran siswa yang merupakan inti dari kegiatan sekolah yang harus didukung oleh proses pengajaran yang berkualitas dengan guru-guru yang kompeten, keorganisasian sekolah yang dapat menfasilitasi keterlaksanaan belajar dan mengajar dimanapun juga, misalnya ruang kelas, sekolah, atau masyarakat, penyediaan sumber-sumber dorongan, masyarakat dapat membantu siswa dan pendidik menciptakan lingkungan belajar mengajar yang berkualitas.

 

B.     Tugas Pokok dan Fungsi Satuan Kerja

            Tugas-tugas pokok guru dalam pembelajaran antara lain:
1.      Menguasai bahan
a.       Mengusai bahan bidang studi dan kurikulum sekolah
b.      Menguasai bahan pendalaman/aplikasi bidang studi
2.      Mengelola program belajar mengajar
a.       Merumuskan tujuan instruksional
b.      Mengenal dan dapat menggunakan metode mengajar
c.       Memilih dan menyusun prosedur instruksional yang tepat
d.      Melaksanakan program belajar mengajar
e.       Mengenal kemampuan (entry behavior) anak didik
f.       Merencanakan dan melaksanakan pengajaran remedial
3.      Mengelola kelas
a.       Mengatur tata ruang kelas untuk pengajaran
b.      Menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi
4.      Menggunakan media sumber
a.       Mengenal, memilih dan menggunakan media
b.      Membuat alat-alat bantu pelajaran sederhana
c.       Menggunakan dan mengelola  laboratorium dalam rangka proses belajar mengajar
d.      Mengembangkan laboratorium
e.       Menggunakan perpustakaan dalam proses belajar mengajar
f.       Menggunakan microteaching unit dalam program pengalaman lapangan
5.      Menguasai landasan-landasan kependidikan
6.      Mengelola interaksi belajar mengajar
7.      Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran
8.      Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan
a.       Mengenal fungsi dan program layanan dan penyuluhan di sekolah
b.      Menyelenggarakan program layanan bimbingan di sekolah
9.      Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
a.       Mengenal penyelenggaraan administrasi sekolah
b.      Menyelenggarakan administrasi sekolah
10.  Memahami prinsip-prinsip dan mentafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran
Jika ditelaah, dari 10 profil kemampuan dasar guru itu dapat diambil kesimpulan ke dalam 3 kategori yaitu:
  1. Kemampuan menguasai bahan bidang studi
  2. Kemampuan merencanakan program belajar-mengajar
  3. Kemampuan melaksanakan program belajar mengajar
            Yang dimaksud dengan kemampuan menguasai bahan bidang studi adalah kemampuan mengetahui, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, menyintesiskan, dan mengevaluasi sejumlah pengetahuan keahlian yang akan diajarkannya. Kemampuan merencanakan program belajar mengajar adalah kemampuan membuat satuan pelajaran dan bahan cetakan lainnya (soft warw) seperti dalam petunjuk pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, lembaran kegiatan membaca, lembaran tugas dan kerja, dan kemampuan menciptakan alat pengajaran. Kemampuan melaksanakan program belajar-mengajar adalah kemampuan menciptakan inetraksi belajar mengajar sesuai dengan situasi dan kondisi dan program yang dibuatnya.

C.    Perumusan / Pokok Permasalahan

             Kalitas sumber daya manusia khususnya guru bahasa Indonesia kelas I di MTs Al-Mu’awanah Minggir Larangan Candi Sidoarjo belum tercapai secara maksimal, hal ini disebabkan karena beberapa faktor, adanya kecenderungan pihak sekolah yang masih terjangkit virus keseragaman dan belum terpenuhinya sarana prasarana.


D.    Kerangka Berfikir

Madrasah, baik sebagai institusi agama maupun institusi pendidikan, seringkali dipandang sebelah mata. Sejak lama madrasah menjadi institusi pendidikan pinggiran dan kelas dua, bukan hanya dalam pengelolaan tapi juga dalam hal anggaran. Posisi madrasah antara sebagai institusi agama dan sebagai institusi pendidikan, sedikit banyak turut memberi andil masalah. Untung saja, masalah seperti ini sedikit demi sedikit bisa diselesaikan. Madrasah mulai mendapat perhatian lebih dan terus didorong untuk meningkatkan kualitas SDM.
Peningkatan kualitas SDM menjadi kata kunci untuk mengembangkan madrasah. Pembangunan kapasitas (capacity building) para pengelola madrasah merupakan pekerjaan rumah yang tidak bisa lagi ditunda-tunda. Ibarat pesawat yang akan take off, maka segala sesuatunya perlu dipersiapkan secara serius agar tidak terjadi sesuatu yang membahayakan.
Dengan adanya pemerintah memberlakukan kurikulum 2004 didasarkan pada UU no. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan PP nomor 25 tahun 2000 tentang pembagian kewenangan pusat dan daerah jelas (berhubungan dengan) UU no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada PP nomor 25 tahun 2000, dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, dinyatakan bahwa kewenangan pusat adalah dalam hal penetapan standar kompetensi peserta didik dan warga belajar serta pengaturan kurikulum nasional dan penilaian hasil belajar secara nasional serta pedoman pelaksanaannya, dan penetapan standar materi pelajaran pokok. Berdasarkan hal itu, Departemen Pendidikan Nasional melakukan penyusunan standar nasional untuk seluruh mata pelajaran di sekolah, yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, dan indikator pencapaian.
Sesuai dengan prinsip otonomi, pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk mengembangkan silabus dan sistem penilaiannya berdasarkan standar nasional. Bagian yang menjadi kewenangan daerah adalah dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang meliputi pembelajaran tatap muka dan pengalaman belajar serta instrumen penilaiannya. Meskipun demikian, daerah dapat mengembangkan standar tersebut, misalnya penambahan kompetensi dasar atau indikator pencapaian.
Pendidikan berbasis kompetensi adalah pendidikan yang menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu jenjang pendidikan. Kompetensi lulusan suatu jenjang pendidikan, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, mencakup komponen pengetahuan, ketrampilan, kecakapan, kemandirian, kreativitas, kesehatan, akhlak, ketakwaan dan kewarganegaraan.
Menurut Wilson (2001) dalam Dirjen Pendidikan Dasar dan Menangah, paradigma pendiidkan berbasis kompetensi mencakup kurikulum, pedagogi, dan penilaian yang menekankan pada standar atau hasil. Kurikulum berisi bahan ajar yang diberikan kepada peserta didik melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan pedagogi yang mencakup strategi atau metode mengajar. Tingkat keberhasilan belajar yang dicapai peserta didik dapat dilihat pada hasil belajar, yang mencakup ujian, tugas-tugas, dan pengamatan.
Implikasi penerapan pendidikan berbasis kompetensi adalah perlunya pengembangan silabus dan sistem penilaian yang menjadikan peserta didik mampu mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan dengan mengintegrasikan life skill. Silabus adalah acuan untuk merencanakan dan melaksanakan program pembelajaran, sedangkan sistem penilaian mencakup indikator dan instrumen penilaiannya yang meliputi jenis tagihan, bentuk instrumen, dan contoh instrumen. Jenis tagihan adalah berbagai bentuk ulangan dan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh peserta didik; sedangkan bentuk instrumen terkait dengan jawaban yang harus dikerjakan oleh peserta didik, baik dalam bentuk tes maupun notes.

E.     Sistematika

BAB I    :  PENDAHULUAN
                  Dalam bab ini akan dibahas tentang latar belakang masalah, tugas pokok dan fungsi satua kerja, perumusan / pokok permasalahan, kerangka berfikir dan sistematika penulisan.


BAB II   :  FAKTA DAN MASALAH
                  Dalam bab ini membahas tentang keadaan sekarang, keadaan yang diinginkan dan rumusan masalah
BAB III :  ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH
                  Dalam bab ini membahas tentang analisis dan pemecahan masalah
BAB IV :  PENUTUP
                  Dalam bab ini membahas kesimpulan dan saran-saran          















BAB II
FAKTA DAN MASALAH

 

A.  Keadaan Sekarang

Dari pokok permasalahan yang dirumuskan pada bab I, dapat dijelaskan sebagai berikut :

1.      Kualitas sumber daya manusia khususnya guru bahasa Indonesia kelas I belum menjalankan sepenuhnya kurikulum berbasis kompetensi khususnya dalam menerapkan model pembelajaran dan penilaian assesment autentic, hal ini karena rendahnya pembinaan sehingga belum melakukan paradigma perubahan, ide-ide yang ada masih tradisional, masih menerapkan formula lama, sehingga perlu adanya peningkatan dan perubahan.

2.      Ada kecenderungan pihak sekolah yang masih masih terjangkit virus keseragaman sehingga sekolah menunggu kebiasaan otoritas dari pusat, hal ini perlu adanya perubahan dan paradigma baru, ide-ide baru, formula baru.

3.      Terbatasnya sarana dan prasarana dalam sekolah membuat pihak pengelola sekolah tidak maksimal dalam menjalankan roda sekolah khususnya yang beroorientasi pada KBK.


B.  Keadaan yang Diinginkan

1.      Terwujudnya Kualitas sumber daya manusia khususnya guru bahasa Indonesia yang mempunyai kualitas dalam membelajarkan siswa khususnya penerapan KBK.

2.      Adanya kesadaran pihak sekolah yang mempunyai pola pikir keberagaman dengan mewujudkan perubahan dan paradigma baru, ide-ide baru, formula baru. Sehingga sekolah dapat mengkontruksi dirinya tanpa adanya kebiasaan otoritas dari pusat.

3.      Terpenuhinya sarana dan prasarana dalam sekolah sehingga pihak pengelola sekolah mampu memaksimalkan roda sekolah.

 

C.   Rumusan Masalah

1.      Bagaimana kualitas sumber daya manusia khususnya guru bahasa Indonesia kelas I  dalam menerapkan KBK di MTs Al-Mu’awanah Minggir Larangan Candi Sidoarjo?

2.      Bagaimana merubah adanya kecenderungan pihak sekolah yang masih terjangkit virus keseragaman?

3.      Langkah apa yang ditempu dalam memenuhi sarana prasarana sekolah di MTs Al-Mu;awanah Minggir Larangan Candi Sidoarjo?.





BAB III
ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH

A.    Analisis

Berdasarkan observasi di lapangan bahwa MTs Al-Mu’awanah lahir sejak tahun 1968. Lembaga tersebut menyatu dengan pondok pesantren Rodotul Ulum, dari tahun ke tahun MTs Al-Mu’awanah berkembang sedikit-sedikit sehingga dari kelas I sampai kelas III mempunyai kelas pararel akan tetapi semenjak wafatnya Kyai Romli Sarif meninggal dunia atau wafat nama baik Al-Mu’awanah mulai menurun, disinilah kemrosotan sedikit demisedikit mulai terasa.
Dengan adanya diberlakukan kurikulum 2004 MTs Al-Mu’awanah mulai berbenah diri dengan melakukan pembinaan kepada guru-guru melalui MGMP, akan tetapi pembinaan tersebut tidak bisa maksimal karena masih banyaknya anggapan guru bahwa kurikulum KBK menambah beban mengajar. Asumsi yang lebih parah bahwa dengan melakukan kurikulum KBK dirinya akan rugi karena yang diperhitungkan bahwa tidak sesuai dengan insentif atau honor guru sedangkan beban makin bertambah.
Tidak hanya kendala yang diuraikan di atas akan tetapi masih banyak keadaan yang memprihatinkan, mulai dari sarana prasarana yang kurang mendukung, guru sulit berubah dan ditambah dengan niat mengajar yang diperhitungkan dengan insentif.
Hal inilah yang membuat kurikulum KBK walaupun sudah di canangkan satu tahun ke depan akan tetapi perubahan belum nampak dalam pembelajaran berbasis kompetensi.

 

B.     Pemecahan Masalah

1.      Memberikan pelatihan terhadap guru bahasa Indonesia secara kontinu, sehingga dapat mengimplemasikan kurikulum berbasis kompetensi.

2.      Perlu pembinaan khusus yang berhubungan dengan revolusi pendidikan, sehingga mampu memahami keberagaman.

3.      Melakukan penambahan anggaran pendidikan yang telah dicanangkan 20% dari anggaran pemerintahan.

Tercapainya SDM yang handal dapat melahirkan out put yang bagus, maka faktor pendukung guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia secara maksimal apabila seorang guru dapat :

1.      Dengan ikhlas mempunyai niat baik bekerja sambil beramal.

2.      Mempunyai tanggung jawab sebagai pembimbing, pengajar dan pelatih di sekolah.

3.      Menjalankan tugas guru, diantaranya menentukan metode kerja yang baik dalam melaksanakan tugas yang beretika dan berakhlaqul qarimah serta mampu melakukan peningkatan/kualitas siswa.


4.      Menjalankan tugas sebaik-baiknya dengan memberikan penilaian, arahan dan  bimbingan.

5.      Melaksanakan peningkatan tugas mengajar di sekolah, yang meliputi :

a.       Menyusun program kerja.

b.      Menilai hasil kemampuan siswa.

c.       Mengumpulkan dan mengolah data sumber daya pendidikan yaitu proses belajar mengajar dan bimbingan di sekolah.

d.      Menganalisa hasil belajar bimbingan siswa

e.       Melaksanakan pembinaan kepada siswa.

f.       Menyusun laporan dan mengevaluasi hasil pembelajaran.

            Disamping faktor pendukung ada beberapa faktor penghambat dalam meningkatkan pelaksanaan tugas mengajar guru di sekolah antara lain:

1.      Masih banyaknya siswa menganggap guru adalah hantu.

2.      Iklim organisasi yang tidak kondusif yang dapat mempengaruhi tingkah laku dan karakteristik guru yang kurang menyenangkan.

3.      Belum sepenuhnya seorang guru melakukan komunikasi ke bawah (siswa) dengan bahasa cinta, sehingga masih banyak siswa kurang senang terhadap guru

4.      Masih belum seluruhnya kepercayaan guru terhadap siswa

5.      Kurangnya empati terhadap guru, sehingga menimbulkan kesan negatif bila guru datang siswa tidak senang.

6.      Faktor usia menentukan seorang guru kurang maksimal dalam pembelajaran.

             Adapun langkah-langkah untuk mengatasi hambatan di atas antara lain :

1.      Perlu memahami arti keberagaman dalam menatap era kesemrawutan yang global.

2.      Menyamakan visi dan misi demi terwujudnya tujuan.

3.      Mempererat hubungan silaturrahim.

4.      Mengakui kelebihan orang lain dan mengakui kekuarangan diri sendiri.

5.      Bekerja dengan niat baik.

6.      Mencari ridho Allah SWT.

 


























BAB IV

PENUTUP


A.    Kesimpulan
Dengan melihat uraian diatas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1.      Kualitas sumber daya manusia khususnya guru bahasa Indonesia di sekolah belum maksimal perlu adanya peningkatan, karena budaya kerja relatif masih rendah menunggu otoritas dari atasan. Sehingga budaya keseragaman nampak pada lembaga sekolah.

2.      Kesadaran pihak sekolah yang mempunyai pola pikir kebersamaan perlu adanya keberagaman dengan mewujudkan perubahan dan paradigma baru, ide-ide baru, formula baru. Sehingga sekolah dapat mengkontruksi dirinya tanpa adanya kebiasaan otoritas dari pusat.

3.      Sarana dan prasarana dalam sekolah belum terpenuhi secara optimal.


B.   Saran-saran

  1. Untuk merealisasikan pengembangan sekolah khususnya guru bahasa Indonesia kearah peningkatan mutu pendidikan, dilakukan kerjasama yang baik antara guru dan pihak sekolah, dengan melakukan inovasi pendidikan yang mengarah kepada landasan Manajemen Operatif Sekolah.
  2. Manajemen operatif merupakan kewenangan dan tanggung jawab kepala sekolah dapat berhasil apabila terjalinnya hubungan yang baik antara guru dan sekolah, yang bertujuan membentuk manusia yang berkualitas, baik fisik maupun kepribadiannya.
  3. Pihak sekolah bersama guru menjalankan hubungan komunikasi yang baik, sehingga mampu mengidentifikasi secara akurat semua komponen. bekerjasama dengan melakukan transformasi ke arah sekolah yang berkualitas, yang salah satunya dibuktikan dari kualitas para lulusan sekolahnya.
  4. Hendaknya Departemen Agama melakukan pembinaan secara rutin terhadap guru agar lebih profesional.

DAFTAR PUSTAKA

 

 


Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menangah, 2003, Kurikulum 2004, Jakarta: Dirjen Dikdasmen Depdiknas.

Herawati, Dewi. 2003, Pembelajaran Bahasa Indonesia, Tesis UNESA : Tidak Dipublikasikan.

Hudoyo, Herman. 1979, Pengembangan Kurikuler Bahasa Indonesia dan Pelaksanaannya di Depan Kelas, Usaha Nasional Surabaya.

Hudoyo, Herman. 1990, Mengajar Konsep Bahasa Indonesia, Malang Jawa Timur : IKIP Malang.

Setiawan, Wahyu. 1996, Bahasa Indonesia Dalam Pembelajaran, Media Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan, IKIP Surabaya

























 
KARYA TULIS UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT
(UPKP) TINGKAT III



RENCANA KERJA PENINGKATAN PELAKSANAAN TUGAS MENGAJAR BIDANG STUDI BAHASA INDONESIA SISWA KELAS I MTs AL-MUAWANAH MINGGIR
CANDI -  SIDOARJO







Oleh :

RINI DWI WAHYUNI

NIP. 150 252 455





DIAJUKAN UNTUK PERSYARATAN UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT (UPKP) TINGKAT III
DEPARTEMEN AGAMA R.I.
TAHUN 2005



 
 
KATA PENGANTAR

Penulis menyadari karya tulis ini belum memenuhi harapan dari segenap pembaca, hal ini disebabkan kurangnya kemampuan penulis sangat memerlukan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dukungan moral terutama pihak sekolah, sehingga hambatan dan halagan dapat teratasi, untuk itu penulis sampaikan terima kasih yang sebanyak-banyaknya serta penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1.      Departemen Agama Kabupaten Sidoarjo
2.      Kepala Sekolah MTs Al-Mu’awanah Sidoarjo
3.      Guru bidang studi bahasa Indonesia
4.      Segenap dewan guru dan karyawan yang telah banyak membantu dalam pelaksanaan penulisan ini.
Karya tulis ini belum belum sepenuhnya sempurna, untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan dalam penulisan selanjutnya.
Akhirnya mudah-mudahan karya tulis ini ada guna dan manfaatnya bagi perkembangan pendidikan  serta kemajuan dan perkembangan masyarakat dimasa mendatang.

Penulis


ii
 
 

DAFTAR ISI


Halaman

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
KATA PENGANTAR.............................................................................................. ii
DAFTAR ISI............................................................................................................. iii
BAB I        PENDAHULUAN
                   A.  Latar Belakang.................................................................................. 1
                   B. Tugas Pokok dan Fungsi Satuan Kerja.............................................. 4
                   C. Perumusan / Pokok Permasalahan...................................................... 6
                   D. Kerangka Berfikir.............................................................................. 7
                   E. Sistematika......................................................................................... 9
BAB II       FAKTA DAN MASALAH
A.  Keadaan Sekarang............................................................................. 11
B.   Keadaan Yang Diinginkan................................................................. 12
C.   Rumusan Masalah.............................................................................. 12
BAB III     ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH
                   A. Analisis............................................................................................... 13
                   B. Pemecahan Masalah........................................................................... 14
BAB IV     PENUTUP
                   A. Kesimpulan........................................................................................ 17
                   B. Saran................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA


iii
 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar