Tampilkan postingan dengan label ayub bintoro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ayub bintoro. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juni 2012

V std d


Mean (rata-rata)

Rata-rata (mean) adalah hasil penjumlahan nilai-nilai anggota sebuah kelompok (∑Xn) dibagi jumlah anggota kelompok tersebut. Ada tiga jenis rata-rata yang dikenal dalam statistik yaitu rata-rata hitung (x ̅), rata-rata ukur (Gm atau U) dan rata-rata harmonik (rh atau H). adapun kegunaan dari rata-rata di atas sebagai berikut:

rata-rata hitung: Mengukur nilai rata-rata sebenarnya dari data misalnya Rata-rata nilai mata kuliah statistika untuk siswa MTs Darul Hikmah, Rata-rata jumlah pencari kerja selama tahun 1990 sampai 2004 yang terdaftat di Disnaker Surabaya

rata-rata ukur: Mengukur tingkat perubahan ( rate of change) untuk data nilai positif misalnya Rata-rata tingkat pertambahan pinjaman setiap bulan di kantor penggadaian. Diketahui data sambungan telpon selama setahun. Berapa rata-rata pertumbuhan sambungan telpon setiap bulan.

rata-rata harmonik: Mengukur nilai rata-rata data yang memiliki nilai positif dan ada rasio. Misalnya Tiga pegawai bagian pembelian diberi tugas membeli kayu di pedalaman. Setiap pegawai mendapat uang Rp. 450 juta. Dari hasil pembelian diperoleh bahwa pegawai ke-1 membeli kayu seharga Rp. 30.000/m3, pegawai ke-2 Rp.35.000/m3, pegawai ke-3 Rp.32.000/m3. Berapa rata-rata harga kayu per meter kubik yang telah dibayar oleh perusahaan. Si A bepergian pulang pergi. Saat pergi kecepatannya 10 km/jam dan pulangnya 20 km/jam. Berapa rata-rata kecepatan pulang pergi?
Dalam postingan kali ini akan dibahas dulu untuk rata-rata hitung

Rata-rata hitung adalah rata-rata yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Para guru sering membuat rata-rata nilai siswa selama satu catur wulan tertentu. Adapun untuk data tunggal, rumus dalam menghitung rata-rata dapat menggunakan tiga cara. Dalam buku ini hanya akan dibahas satu cara yaitu:

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgt50Z32jXxU1Ri7OyJ_Q_yJEngz_npwoIMXE515awL9jyr7ny_5Vdxd9gvmmnHzqQrHTWnbKDN91zcGaUpPmeQWveBlFYqE78xpibVK9aVToFIBR_WyZewQwqi-0WVoY-8_7Ctj3yelTQ/s320/mean.gif

untuk data tunggal dan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-4kb38HNH5E8ylzsAcMCnuphaZ-a8jPfqGGY3-qLXxPTQMklmJWXyDsH4MbZJs_MJ0-q6Oh91Oolj4tvlmTGPTLB0yDCZ5mCjrU6QnmMCgXCXUjcXy-_ug2h3G8ELoggubAP1tcfCna0/s320/mean+2.gif
Untuk data kelompok dimana i=1,2, k (k adalah banyaknya interval kelas) fi adalah frekuensi kelas ke-I dan Xi adalah nilai tengah kelas ke- i.
Misalnya kita memiliki data hasil ujian 25 orang siswa/i sejarah peradaban Islam MTs Darul Hikmah sebagai berikut:

79  63  72  82  74
36  42  67  51  88
68  73  78  77  96
67  67  48  41  57
91  45  83  71  50

Maka kita dapat menghitung rata-rata nilai siswa MTs Darul Hikmah untuk mata pelajaran Sejarah Peradaban Islam dengan menggunakan rumus di atas sebagai berikut:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiuYSTjzprV2M7AYSuinSAbhLIN8BgSndRRnpYuSHWd9C77U03VYdWPJirhQCRHASzyl0XvSfNYImIYPWFxnPU3gLQMLyGMcwvtuqGYRsjCssyUmUZMUkG-HiGq9WEq_3Ew3ycst-4Ftn8/s320/mean+3.gif
jadi rata-ratanya adalah (x
̅) = 66,64

Jika data di atas kita buat dalam bentuk kelompok, maka yang pertama yang harus dilakukan adalah membuat tabel distribusi seperti dibawah ini:


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmDlQYWfg7Let1hw4-HqT8X90dTqPoVPdvxvFNhxXaJkqCoqyJvQAscKXWs5EE7X6Ij0-vf_irznTtZ6boQy8rPwWikWD6mPxmqrWUO-V2iNNAy6dpYiVsQlUlkBJOKhose7tWqZlNv58/s320/mean+4.gif

Dengan menggunakan rumus di atas maka kita dapat menentukan rata-rata dengan cara:

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgD_0hJSLEVi8tkSuUoMxgL0ZsQH00mDsHndQHBzaI-t_gxH0Tzryh9r3ybny4BZHHThM9iuxeqld2uPoq8D6RBjRjgYvc9ZMaVq8sHW_LcnKoT5HgRJ2bKrpd3HJnIlXnGeZlNaPJc26U/s320/mean+5.gif
bandingkan hasil perhitungan data kelompok dengan data tunggal!!

kita menemukan bahwa menghitung mean pada data berkelompok menghasilkan nilai yang berbeda dengan menghitung mean pada data tunggal. Aspek ramalan yang kita gunakan pada penentuan mean dengan menggunakan data berkelompok turut menentukan hasil mean yang kita temukan. Ternyata menentukan modus dengan tidak mengelompokkan data lebih tepat daripada kita mengelompokkan data terlebih dahulu. tingkat ketempatan akurasi ini dikarenakan dengan manggunakan data tunggal, maka yang kita hitung adalah data sebenarnya.

Jumat, 15 Juni 2012

STRENGTH AND POWER TESTING (DYNAMOMETRY


STRENGTH AND POWER TESTING (DYNAMOMETRY)
Abernethy, P., Wilson, G., & Logan, P. (1995). Strength and power assessment. Sports Medicine, 19, 401-417. http://coachsci.sdsu.edu/csa/vol21/dividred.gif
This review article considers the factors associated with strength and power testing. It highlights shortcomings and problems associated with this form of assessment. An underlying theme that is verified by its exhaustive review is that much strength and power testing is invalid and unreliable. The reasons for this status are primarily a failure to scientifically develop testing protocols and validities and then to cross-validate the utility of tests with each sport and level of participant.
Generally, there is little consistency between laboratories in terms of the rationale for, or execution of, strength and power assessments. This means that results will be dependent upon who does the testing. The tenuousness of those results is compounded further when unsubstantiated validity, reliability, and accuracy are considered.
Strength and power are assessed for four main purposes:
  • to quantify the relative significance and contribution of strength and power to various athletic events;
  • to identify specific deficiencies and prescribe corrective programs to produce appropriate changes (diagnosis);
  • to identify talented individuals who may be suited to particular sporting activities; and
  • to monitor the effect of various training and rehabilitation interventions.
Current methods of dynamometry can measure power associated with tasks in which either the load or movement velocity are held constant. This contrasts with the dynamic nature of sporting activities. This discrepancy between sports and laboratory activities is one of the major challenges for sport scientists.
Testing is further confounded when the type of contractions, movement paths, and nature of the testing activity are at variance with what occurs in the sporting situation. These problems create difficulties in mimicking sporting movements. Consequently, many testing protocols are limited to nonspecific tasks. The difficulty presented with "general" tests is their lack of sensitivity to the requirements of and changes in specific sporting activities. Important movement, capacity, and adaptive subtleties are likely to be lost in nonspecific tests.
The failure to address these problems because of expediency and the "need" for testing does not make testing any more valuable or useful. It serves to perpetuate problems and increases the likelihood of inappropriate information being used to make coaching decisions. The current trend to perform testing for testing sake is the symptom of this expediency.
There are three modes of dynamometry:
  1. Isometric dynamometry measures the amount of strength that can be exerted against an immovable object (MVC - maximal voluntary contraction). The important characteristic of isometric contractions is the rapidity with which maximum force can be developed (RFD - rate of force development). Proponents of this form of testing assert there is a high level of assessment control. Detractors assert that isometric tests bear little semblance to the dynamic nature of sporting tasks.
Isometric assessments usually display high test-retest reliabilities. However, reliability varies between the muscle groups and the parameter (RFD or MVC) being assessed. Different tests are appropriate for athletes, nonathletes, women, men, and children. Differences in the posture of actions also change reliabilities.
To achieve some potential for acceptable reliability, it is suggested that:
    • actions be performed as hard and fast as possible,
    • the testing posture mimic that of the sport (since strength is context specific), and
    • tests be performed at the joint angle associated with peak force during the target athletic movement.
  1. Isoinertial dynamometry involves natural activities. Previously this was called isotonic (constant tension) work, but the nature of dynamic work is hardly that and so the "new" label is more appropriate. Isoinertial means constantly resistant to motion, and in most activities resistances such as gravity, water, air, and equipment are always impeding progress and performance. Maximum successful exertion for one repetition of a task (1RM) is the usual measure of maximum isoinertial strength and is used commonly in sport profiling.
However, isoinertial movements also bear little resemblance to sporting activities. They are usually performed relatively slowly and are trained by a low number of repetitions. This nonspecific measure and training mode is questionable for its relevance and transfer value to actual sporting movements. Some argue that the dynamic accelerative motion associated with these tests more closely approximates movements in many sports. Those who argue against this form of assessment emphasize the potential for athlete injury and poor reliability and objectivity due to intertrial, interathlete, and interlaboratory variations. Much of the gains in these forms of tests results from learning to do the movements of the tests rather than reflecting training effects from sporting participation.
There may be a load threshold beyond which reductions in reliability of this form of movement seriously compromise its validity. For example, several acute variables, including preloading and recovery between 1RM efforts, may affect 1RM strength. The number of trials to achieve maximum and the type of movement will also affect reliability. Further, it is also very possible that maximum values of exertion may not be the best measure of a strength and power capacity in a number of sports.
  1. Isokinetic dynamometry is perceived to be the easiest assessment over which to achieve reliability and objectivity. However, the movement loading pattern bears little relationship to most sporting activities. That weakness makes inferences from results to actual activity tenuous at best.
Reliability is affected by the selected speed of the movement. Usually fewer trials are needed for slow movements while more are needed for fast movements. The order of testing also influences results. It has been shown that reliability of eccentric and concentric assessments is reduced when tests for highest speed precede those of lower speeds. Further, results for one joint should not be considered characteristic of other untested joints. It is incorrect to infer strength status between joints and movements, particularly in highly trained athletes. As with other forms of strength assessment, test positioning and stabilization affect reliability.
With all forms of dynamometry, there are weaknesses that often make results unreliable and therefore, unrelated to sporting pursuits. Poor generalization, particularly in light of strong support for the specificity of training effect, is further compounded by non-standardized and poorly constructed testing protocols. The validity, reliability, and objectivity of strength and power testing procedures has to be established before any credence can be placed in results so that better coaching decisions can be made.
Most assessment procedures offered by sports science services display discrepancies in the logic and practices of their proponents because they are generally governed by belief, preference and/or expediency, rather than objectively verified fact and practice. As such, strength and power testing rarely deserves the status of acceptable sports "science." The following are worthy of note.
  • It is unlikely that any one procedure will be able to be used for several major purposes (e.g., diagnosis, talent identification, training effects).
  • The usefulness of particular protocols within a sport may differ with the level of athlete targeted for testing.
  • Minor changes in protocols are likely to greatly affect the usefulness of a test in a particular context.
  • Procedures influenced by assumptions and approaches based upon anecdotal evidence should be questioned.
  1. Factors which modify strength and power test results.
    • The time of testing after previous competitions or intensive training bouts will influence results. Strength (1RM) can take up to 3 days to recover from similar intensive stimulation, such as that performed by athletes in regular training.
    • Strength, particularly isokinetic strength, and power are reduced by exposure to single bouts of intensive endurance activity. Continued endurance training in the absence of strength and power work reduces those capacities even further. It is recommended that prior to assessment, the physical activity of athletes be limited, monitored, and controlled for 72 hours.
    • Any strength or power assessment should be substantiated by established validity, reliability, and objectivity demonstrations rather than being assumed or expediently argued as self-evident truths.
  2. Correlations between test measures and athletic performance.
    • There is only a limited amount of published research relating strength and power assessments to athletic performance.
    • Correlations may exist between tests and performances but that does not mean the tests will be able to reflect training effects. For example, power may be shown to relate to sprint swimming performance, but changes in performance speed usually are not reflected in strength/power test results.
  3. Discriminations between groups of individuals.
    • Generally strength and power assessments demonstrate correlated differences between athletes across a wide range of standards. Also, men usually test stronger than women as do the mature over the young, and the active over the inactive.
    • Discriminability is quite weak when groups of like individuals are tested. Inferring any strength/power differences to performance is spurious. For example, the strength of football players is unrelated to playing status and ability.
  4. Sensitivity of testing to training effects.
    • There is no consistent finding that dynamometric measures are sensitive to the effects of various types of training nor whether all measures are similarly sensitive to training effects. It would be an error to place much credence on one study that supports a discriminatory finding.
    • An important question to ask of supposedly training-sensitive strength and power measures is whether existing correlations between tests and performance demonstrate a correlation of a similar or increased magnitude following training or detraining. A marked reduction in correlation would suggest that what was being measured initially has changed and become more unrelated.
    • Increments in strength and power following training may be limited to specific movement patterns, contractile speeds, and loading modalities. It is likely that in many studies and practical situations involving seriously training athletes the only power and strength improvements that occur will be in the actual activities used for training. There will be no carry over to a targeted performance activity.
    • It is erroneous to believe that all strength and power assessments will be sensitive to the adaptations associated with all forms of strength and power conditioning.
    • It is frequently assumed, but more likely unknown, that strength and power measures reflect training changes established in other activities through other modalities.
  5. Assumptions of strength and power assessment.
    • About the only fact that can be stated accurately about strength and power assessment procedures is that they assess the performance used in their conduct.
    • For the large majority of strength and power tests, it is difficult to verify that the mechanisms being tested are in fact being measured.
    • In situations of practical expediency, the issues of logical validity and models for the development of strength and power are often confused. A distinction must be made between the two to understand what assessments actually do.
Implications. Practical situations often determine the limits of testing and training. Assessments quite often are restricted to available equipment, whether or not the modality of testing is appropriate for a sport. When this situation exists, a coach or athlete should ask for objective verification of claims of benefit before participating in testing or training. Given the state of scientific knowledge and demonstrations in this field, it would be more prudent for a coach to graciously refuse to accept assistance from "strength and power trainers" if no substantiating evidence can be provided.
Until this area of sports conditioning and assessment is clarified by acceptable research, its claims must be viewed with skepticism. There are too many advocates making too many uncorroborated claims about the value of inferring strength and power assessment results to program presumptions and consequential athlete benefits.
http://coachsci.sdsu.edu/csa/vol21/dividred.gif

menejemen lingkungan


MAKALAH MANAJEMEN LINGKUNGAN
TENTANG
PENCEMARAN AIR, TANAH KARENA TINJA MANUSIA




FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
TAHUN 2010-2011





DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
DAFTAR ISI
BAB I PENDHULUAN
a.      Latar belakang
b.      Tujuan
c.       Rumusan permasalahan
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Pencemaran Tanah dan Air Karena Tinja
2.2 Syarat Pembuangan Tinja
2.3 Metode Pembuangan Tinja
2.4 Penyebaran Penyakit Melalui Tinja
2.5 Kotoran Manusia Dikembangkan Menjadi Energi Bio Gas
BAB III ANALISA MASALAH
3.1  bagaimana cara membuat septic tank yang baik untuk mengatasi pencemaran air dan tanah?
                        3.2  penyakit apa yang yang ditimbulkan oleh pencemaran tinja manusia?
                        3.3 apa manfaat dari tinja manusia?
BAB IV PENUTU
                        4.1 Kesimpulan
                        4.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA







BAB I
PENDAHULUAN
1.1.latar belakang

Dewasa ini air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang seksama dan cermat. Karena untuk mendapatkan air yang bersih, sesuai dengan standar tertentu, saat ini menjadi barang yang mahal karena air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah dari hasil kegiatan manusia , baik limbah dari kegiatan rumah tangga, limbah dari kegiatan industri dan kegiatan-kegiatan lainnya.
Dan ketergantungan manusia terhadap air pun semakin besar sejalan dengan perkembanga penduduk yang semakin meningkat . contohnya di daerah surabaya, yang pola penyebaran kepadatan penduduknya tidak merata dan volume penduduk pendatangnya cukup besar, hal ini mengakibatkan makin berkembangnya permukiman-permukiman yang kurang terencana baik dalam bentuk kawasan hunian sub standar dan tidak teratur. Dan dengan adanya permukiman-permukiman yang kurang terencana, maka dapat mengakibatkan sistem pembuangan limbah rumah tangga seperti pembuangan limbah kamar mandi/wc dan dapur tidak terkoordinasi dengan baik, sehingga limbah tersebut dapat mengakibatkan terjadinya pencemaran air tanah yang dapat mengakibatkan terjadinya penyebaran beberapa penyakit menular. Selain mengakibatkan terjadinya pencemaran air tanah dapat juga mengkibatkan lingkungan di daerah pemukiman tersebut menjadi tercemar.
Oleh kerena itu dalam pembuangan limbah domestik di daerah permukiman tersebut sebaiknya dilakukan pembuatan sistem jaringan pembuangan limbah yang dapat menumpang dan mengalirkan limbah tersebut secara baik dan benar, agar dapat mencegah terjadinya kontak antara kotoran sebagai sumber penyakit dengan air yang sangat diperlukan untuk keperluan hidup sehari-hari. Oleh karena itu, kualitas dan kualitas air tanah pada daerah permukiman tersebut harus terjamin, agar dapat di gunakan untuk keperluan hidup sehari-hari sesuai dengan standart kesehatan dan baku mutu kualitas air.




1.2 tujuan
            Untuk mengetahui seberapa besar dampak pencemaran air dan yang ditimbulkan oleh tinja manusia.
1.3 rumusan masalah
            Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat ditemukan permasalahannya sebagai berikut:
1. bagaimana cara membuat septic tank yang baik untuk mengatasi pencemaran air dan tanah?
            2. penyakit apa yang yang ditimbulkan oleh pencemaran tinja manusia?
            3. apa manfaat dari tinja manusia?



















BAB II
LANDASAN TEORI
 2.1 Pencemaran tanah dan air karena tinja
Permasalahan utama pencemaran air di negara sedang berkembang seperti Indonesia adalah terkontaminasinya air minum oleh bakteri dan virus yang dapat menyebabkan kesakitan maupun kematian. Pencemaran tersebut juga terjadi pada air tanah. Bahan pencemar dapat mencapai aquifer air tanah melalui berbagai sumber diantaranya meresapnya bakteri dan virus melalui septic tank.







Diperkirakan pada saat ini hampir sekitar 70 % air tanah di daerah perkotaan sudah tercemar berat oleh bakteri tinja, padahal separuh penduduk perkotaan masih menggunakan air tanah. Kondisi perumahan dan lingkungan yang padat (slum area) serta aktifitas dan berbagai kegiatan yang tanpa perencanaan lingkungan menjadi salah satu faktor penyebabnya. Kondisi tersebut antara lain dapat menyebabkan berbagai kerusakan septick tank, dan pencemaran lainnya. Menurut studi Bappenas, walaupun sudah terdapat standar nasional tentang konstruksi septic tank, namun dalam implementasinya masih banyak terdapat catatan, antra lain :
  1. Adanya saluran air yang tersumbat, seharusnya fungsi saluran tersebut adalah mengalirkan air hujan, tetapi dalam pelaksanaannya dipakai menampung air kakus dan sampah sehingga jadi sarang penyakit.
  2. Belum terdapat peraturan yang mewajibkan penyedotan tinja secara rutin, serta belum ada pihak yang merasa berkepentingan memeriksa isi septic tank.
  3. Masih terdapat pandangan masyarakat bahwa bagus dan tidaknya septic tank.
  4. Akses masyarakat terhadap sarana sanitasi (air bersih dan MCK), sehingga masyarakat terpaksa masih menggunakan sungai.
  5. Standard tersebut kurang ditunjang oleh aturan-aturan pendukungnya, seperti belum adanya aturan yang membatasi jumlah septic tank per satuan luas kawasan.
  6. Fasilitas MCK yang tidak berfungsi secara optimal baik karena usang, salah konstruksi, tidak terawat, tidak ada air, maupun masyarakat yang belum siap menerima keberadaannya sesuai fungsinya.
  7. Kenyataan masih sebagian besar Influent industri di kawasan pemukiman dialirkan ke sungai tanpa proses pengelolaan terlebih dahulu.
  8. Kebiasaan buang air besar sembarangan masih dilakukan oleh sebagian besar masyarakat perkotaan. Berdasarkan data Susenas tahun 2004 lebih dari 12 persen penduduk perkotaan Indonesia sama sekali tidak memiliki akses ke sarana jamban.
  9. Usaha jasa sedot tinja, seringkali hingga saat ini masih membuang langsung muatannya ke sungai, alasannya tidak ada Instalasi Pembuangan Lumpur Tinja (IPLT)/atau tidak berfungsi. Teknis pembuatan jamban masih belum memenuhi standard, menurut penelitan hampir 35 persen jamban di kawasan perkotaan dalam kondisi tidak ada air, tidak ada atap atau tidak tersambung ke septic tank.
Air tanah dangkal merupakan air tanah yang memiliki kualitas yang pada umumnya baik, akan tetapi banyak tergantung kepada sifat lapisan tanahnya, apabila kondisi sanitasi lingkungan sangat rendah maka banyak tercemar oleh bakteri. Apabila berdekatan dengan industri dengan beban pencemaran tinggi dan tidak memiliki sistem pengendalian pencemaran air maka akan terpengaruh rembesan pencemaran. Informasi tentang pola pencemaran tanah dan air tanah oleh tinja sangat bermanfaat dalam perencanaan sarana pembuangan tinja, terutama dalam penentuan lokasi sumber air minum. Setelah tinja tertampung dalam lubang atau septick tank dalam tanah, maka kemampuan bakteri untuk berpindah akan sangat berkurang. Bakteri akan berpindah secara horizontal dan vertikal ke bawah bersama dengan air, air seni, atau air hujan yang meresap. Jarak perpindahan bakteri akan sangat bervariasi, tergantung pada berbagai faktor, diantaranya yang terpenting adalah porositas tanah. Perpindahan horizontal melalui tanah dengan cara itu biasanya kurang dari 90 cm, dengan perpindahan kearah bawah kurang dari 3 m pada lubang yang terbuka terhadap air hujan, dan biasanya kurang dari 60 cm pada tanah berpori.
Menurut Gotaas, dkk dalam Soeparman (2002), yang meneliti pembuangan secara buatan limbah cair ke akuifer di Negara Bagian California, AS, menemukan bahwa bakteri dapat berpindah sampai jarak 30 m dari titik pembuangannya dalam waktu 33 jam. Selain itu, terdapat penurunan cepat jumlah bakteri sepanjang itu karena terjadi filtrasi yang efektif dan kematian bakteri. Peneliti lain yang meneliti pencemaran air tanah di Alaska mencatat bahwa bakteri dapat dilacak sampai jarak 15 m dari sumur tempat dimasukkannya bakteri yang dicoba. Lebar jalan yang dilewati bakteri bervariasi, antara 45 dan 120 cm. Kemudian, terjadi penurunan jumlah organisme, dan setelah satu tahun hanya lubang tempat dimasukkanya saja yang dinyatakan positif mengandung organisme.
2.2 Syarat Pembuangan Tinja
Akses masyarakat terhadap sarana sanitasi khususnya jamban, saat ini masih jauh dari harapan. Berbagai kampanye dan program telah banyak dilakukan, terakhir dengan pemberlakuan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Berbagai upaya tersebut sebetulnya bermuara pada terpenuhinya akses sanitasi masyarakat, khususnya jamban. Namun akses tersebut selain berbicara kuantitas yang terpenting adalah kualitas. Perdebatan tentang pengertian sanitasi total, pada tahap awal akan terjadi pada ranah defenisi dan pengertian. Untuk menuju sanitasi total, penting untuk memastkan faktor supply dan demand tercapai dengan maksimal, untuk mewujudkan Open Defecation Free (ODF) pada tingkat komunitas.










Kenyataan di lapangan status ODF masih belum seiring dengan terpenuhinya syarat kualitas sarana (dan ini memang sering kali harus diabaikan dulu untuk mengejar perubahan perilaku). Namun bagaimanakah sebetulnya syarat pembuangan tinja yang memenuhi syarat kesehatan? Menurut Ehlers dan Steel (dalam Entjang, 2000), syarat tersebut antara lain :
  1. Tidak boleh mengotori tanah.
  2. Tidak boleh mengotori air permukaan.
  3. Tidak boleh mengotori air tanah dalam.
  4. Kotoran tidak boleh terbuka sehingga dapat dipakai tempat lalat bertelur atau perkembang biakan vektor penyakit lainnya.
  5. Kakus harus terlindung dari penglihatan orang lain.
  6. Pembuatannya mudah dan murah.
Untuk mencegah sekurang-kurangnya mengurangi kontaminasi tinja terhadap lingkungan, maka pembuangan kotoran manusia harus dikelola dengan baik, maksudnya pembuangan kotoran harus di suatu tempat tertentu atau jamban yang sehat. Suatu jamban disebut sehat untuk daerah pedesaan apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut (Notoatmodjo,2003).
  1. Tidak mengotori permukaan tanah di sekeliling jamban.
  2. Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya.
  3. Tidak mengotori air tanah di sekitarnya.
  4. Tidak dapat terjangkau oleh serangga terutama lalat dan kecoa, dan binatang binatang lainya.
  5. Tidak menimbulkan bau.
  6. Mudah digunakan dan dipelihara (maintanance).
  7. Sederhana desainnya.
  8. Murah.
  9. Dapat diterima oleh pemakainya.


                                                                                               
2.3 Metode Pembuangan Tinja
Metode pembuangan tinja secara umum dibagi menjadi dua, Unsewered area dan Sewered area. Unsewered area terdiri Service type (conservancy system) dan Non-service type (sanitary latrines) yang terdiri dari Bore hole latrine, Dug well or pit latrines, Water seal type of latrines (PRAI type dan RCA type), Septic tank, Aqua privy, Chelmical closet. Metode lain berupa Latrines suitable for camps and temporary use yang terdiri dari Shallow trench latrine dan Deep trench latrine

2.4 Penyebaran Penyakit Melalui Tinja
Pembuangan tinja manusia yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan pencemaran terhadap permukaan tanah serta air tanah yang berpotensi menjadi penyebab timbulnya penularan berbagai macam penyakit saluran pencernaan (Soeparman, 2002). Selain dapat mengakibatkan kontaminasi pada air, tanah, juga dapat menjadi sumber infeksi, dan akan mendatangkan bahaya bagi kesehatan, karena penyakit yang tergolong water borne diseases akan mudah terjangkit. Bahaya terhadap kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah pencemaran tanah, pencemaran air, kontaminasi makanan, dan perkembangbiakan lalat. Penyakit-penyakit yang dapat ditimbulkan antara lain tifoid, paratifoid, disentri, diare, kolera, penyakit cacing, hepatitis viral, dan beberapa penyakit infeksi gastrointestinal lain, serta investasi parasit lain.
Penyebaran penyakit yang bersumber dari tinja dapat melalui berbagai macam cara dan metode. Yang harus kita yakinkan adalah, bahwa tinja sangat berperan besar terhadap penyebaran penyakit. Penyebaran tersebut dapat terjadi secara langsung (misalnya dengan mengkontaminasi makanan, minuman, sayuran dan sebagainya, maupun secara tidak langsung (melalui media air, tanah, serangga (lalat, kecoa, dan sebagainya). Juga melalui kontaminasi pada bagian-bagian tubuh.
2.5 Kotoran Manusia Dikembangkan Menjadi Energi Bio Gas
Biogas dari kotoran manusia terus dikembangkan di wilayah Kabupaten Gunung Kidul. Setelah sebelumnya memasang instalasi pengolahan biogas di bantaran Kali Besole, Kementerian Lingkungan Hidup membangun instalasi yang sama di Pondok Pesantren Darul Quran. Pembangunan instalasi biogas di pesantren ini berpotensi menciptakan ekopesantren atau pesantren berwawasan lingkungan. Ketua Pondok Pesantren Darul Quran Ahmad Haris Masduki mengatakan akan menularkan teknologi pengolahan limbah ini ke pondok pesantren lain pada forum ekopesantren yang akan digelar di Yogyakarta, Rabu. “Pengolahan limbah menjadi biogas mampu menciptakan pondok pesantren yang ramah lingkungan atau ekopesantren,” ujar Haris.
Teknologi pengolahan limbah kotoran manusia yang baru satu bulan terakhir dipasang di Pondok Pesantren Darul Quran ini diadopsi dari Jerman melalui Bremen Overseas Research and Development Association. Dengan mengolah kotoran manusia, pengelola pondok pesantren bisa menghemat pengeluaran uang untuk pembelian bahan bakar hingga Rp 2,5 juta/bulan. Limbah cair dari instalasi pengolahan biogas juga bisa dimanfaatkan bagi pertanian. Dari lahan seluas 1.500 meter persegi, para santri bisa memanen aneka sayuran dengan nilai jual hingga Rp 1,6 juta/bulan. “Keuntungan ekonomi hanya efek samping. Yang terpenting limbah tak lagi menjadi masalah, tetapi justru bermanfaat,” tambah Haris. Santri di Pondok Pesantren Darul Quran, Muhtasin, mengaku, awalnya dia dan sekitar 400 santri lainnya merasa jijik untuk memanfaatkan biogas dari kotoran manusia. Dia dan rekan-rekannya mulai terbiasa memanfaatkan biogas setelah mencicipi rasa masakan yang tidak berbeda dengan menggunakan bahan bakar jenis lain. Sebelum mengenal pengolahan biogas, limbah dari pondok pesantren hanya dibuang ke areal persawahan sehingga mencemari lingkungan. Lewat pengolahan limbah tersebut, para santri juga diajak untuk menjaga kelestarian lingkungan. Ke depannya, pengelola pondok pesantren berharap bisa memanfaatkan olahan limbah kotoran manusia ini sebagai bahan baku pupuk. Sejak Desember lalu, warga di pinggiran kali Besole, Gunung Kidul, juga telah memanfaatkan gas dari kotoran manusia sebagai bahan bakar. Pemerintah memperbaiki toilet warga yang hidup berdesakan di pinggir kali dan menampung seluruh kotoran dari tujuh rumah. Gas dari kotoran tersebut baru bisa dimanfaatkan oleh 13 orang dari dua keluarga.












BAB III
ANALISA MASALAH
1.  Menurut (NOTOATMOJO,2003) dalam bukunya Suatu jamban disebut sehat untuk daerah pedesaan apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut (Notoatmodjo,2003).
a.       Tidak mengotori permukaan tanah di sekeliling jamban.
b.      Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya.
c.       Tidak mengotori air tanah di sekitarnya.
d.      Tidak dapat terjangkau oleh serangga terutama lalat dan kecoa, dan binatang binatang lainya.
e.        Tidak menimbulkan bau.
f.       Mudah digunakan dan dipelihara (maintanance).
g.      Sederhana desainnya.
h.      Murah.
i.        Dapat diterima oleh pemakainya.
2. Menurut “SOEPARMAN,2002” dalam bukunyaPembuangan tinja manusia yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan pencemaran terhadap permukaan tanah serta air tanah yang berpotensi menjadi penyebab timbulnya penularan berbagai macam penyakit saluran pencernaan. Selain dapat mengakibatkan kontaminasi pada air, tanah, juga dapat menjadi sumber infeksi, dan akan mendatangkan bahaya bagi kesehatan, karena penyakit yang tergolong water borne diseases akan mudah terjangkit. Bahaya terhadap kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah pencemaran tanah, pencemaran air, kontaminasi makanan, dan perkembangbiakan lalat. Penyakit-penyakit yang dapat ditimbulkan antara lain tifoid, paratifoid, disentri, diare, kolera, penyakit cacing, hepatitis viral, dan beberapa penyakit infeksi gastrointestinal lain, serta investasi parasit lain.
3. Biogas dari kotoran manusia terus dikembangkan di wilayah Kabupaten Gunung Kidul. Setelah sebelumnya memasang instalasi pengolahan biogas di bantaran Kali Besole, Kementerian Lingkungan Hidup membangun instalasi yang sama di Pondok Pesantren Darul Quran.  menurut “HARIS MASDUKI” Ketua Pondok Pesantren Darul Quran Ahmad mengatakan akan menularkan teknologi pengolahan limbah ini ke pondok pesantren lain pada forum ekopesantren yang akan digelar di Yogyakarta, Rabu. “Pengolahan limbah menjadi biogas mampu menciptakan pondok pesantren yang ramah lingkungan atau ekopesantren,”Biogas dari kotoran manusia terus dikembangkan di wilayah Kabupaten Gunung Kidul.

 Dengan mengolah kotoran manusia, pengelola pondok pesantren bisa menghemat pengeluaran uang untuk pembelian bahan bakar hingga Rp 2,5 juta/bulan. Limbah cair dari instalasi pengolahan biogas juga bisa dimanfaatkan bagi pertanian. Dari lahan seluas 1.500 meter persegi, para santri bisa memanen aneka sayuran dengan nilai jual hingga Rp 1,6 juta/bulan. “Keuntungan ekonomi hanya efek samping. Yang terpenting limbah tak lagi menjadi masalah, tetapi justru bermanfaat,” tambah Haris. Santri di Pondok Pesantren Darul Quran.
























BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran






















DAFTAR PUSTAKA